Tanyakan pada diri sendiri, di usia pensiun bisakah kita mempertahankan kualitas hidup seperti yang kita jalani sekarang. Jika ragu, apalagi tidak yakin, perlu financial checkup.
Financial checkup? Kayak orang sakit saja. Mungkin, banyak dari kita yang berpikiran seperti itu karena belum menyadari, pengelolaan uang yang selama ini kita jalankan perlu di-check up, kemudian ditata ulang. Banyak orang tak merasa punya masalah dalam keuangan. Apalagi, gaji atau pendapatan yang diterimanya lebih dari cukup, tiap hari bisa makan enak, menyandang pakaian bagus — bahkan bermerek, kerap nongkrong di kafe mahal yang sekali datang bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah dan mengendarai mobil bagus. Dan, setiap musim liburan, dari uang hasil tabungan, mereka bisa berlibur. Kebutuhan dana untuk semua itu bisa dipenuhi dari gaji yang diterima setiap bulan alias tanpa berutang. Kalaupun menggunakan kartu kredit, itu hanya untuk kemudahan pembayaran dan bisa dilunasi pada saat jatuh tempo. Menyenangkan, bukan?
Namun, coba kita bayangkan, apakah ketika kita tidak produktif lagi atau memasuki usia pensiun mampu mempertahankan kualitas hidup seperti itu. Atau, yang bakal terjadi sebaliknya: terjadi penurunan kualitas hidup. Menurut Aidil Akbar Madjid, Direktur Pavillion Capital, bila sekarang kita menggunakan 50%-70% pendapatan untuk memenuhi kebutuhan (gaya) hidup, bahkan tiga tahun menjelang pensiun meningkat menjadi 80%-100%, akan terjadi tingkat keparahan penurunan kualitas hidup yang tinggi bila mereka tidak mempunyai dana pensiun yang cukup.
Dan, menilik hasil survei Citibank yang bekerja sama dengan AC Nielsen, hanya 20% dari responden punya perencanaan keuangan untuk pensiun. Berarti, 80% belum menganggap penting hal yang sebenarnya sangat penting ini. Menurut Hendri Hartopo, konsultan keuangan dan investasi, sebetulnya fenomena para eksekutif kurang memperhatikan persiapan pensiun tidak hanya terjadi di Indonesia. “Di AS pun gejalanya sama. Mereka juga cenderung hidup konsumtif,” tutur penulis buku “Save Or Sorry!” ini. Gaji besar tak menjamin orang mampu merencanakan pensiun secara baik. “Pembaca buku saya yang bergaji Rp 20 juta masih merasa kurang terus. Ini tergantung gaya hidupnya seperti apa,” lanjut Hendri.
Banyak faktor yang membuat orang tidak punya perencanaan pensiun secara baik. Salah satunya, dikatakan Aidil, perilaku konsumtif hanya untuk jaga gengsi. Mayoritas pendapatannya untuk menunjang kebutuhan hidup dan penampilan mereka. Ini bisa dilihat dari barang-barang yang dikenakannya, aset yang dimilikinya — seperti mobil, dan hal-hal lain yang kasat mata.
Faktor lainnya, Aidil menambahkan, ketidaktahuan mereka tentang perbedaan antara menabung dan investasi. Maklum, selama 30 tahun orang Indonesia hanya dicekoki produk perbankan, misalnya deposito dan tabungan yang durasinya pendek. Akibatnya, pengetahuan mereka terhadap investasi juga minim. Di samping, tentunya, mereka juga belum melakukan perencanaan keuangan secara baik, misalnya dengan memanfaatkan jasa perencana keuangan.
Read the rest of this entry »