<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Allessa Zeykha Arafa &#187; Wisanggeni</title>
	<atom:link href="http://mas-miftah.com/allessa/category/wisanggeni/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mas-miftah.com/allessa</link>
	<description>A journey to persuit a happiness...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Aug 2011 07:49:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>ROKOK DAN PUASA</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/rokok-dan-puasa.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/rokok-dan-puasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Sep 2006 02:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/rokok-dan-puasa.htm</guid>
		<description><![CDATA[Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb., Apa hubungan rokok dan puasa?. Bagi saya, tidak ada hubungan antara rokok dan puasa. Sahabat saya mengatakan justru karena puasa, ia dapat berhenti total dari merokok. Sahabat saya seorang perokok berat. Beberapa tahun yang lalu ia mendapat tawaran dari seorang dokter ekspatriat : 1. Berhenti Merokok dan Sehat, atau 2. Terus Merokok dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb.,</p>
<p>Apa hubungan rokok dan puasa?. Bagi saya, tidak ada hubungan antara rokok dan puasa. Sahabat saya mengatakan justru karena puasa, ia dapat berhenti total dari merokok.</p>
<p> Sahabat saya seorang perokok berat. Beberapa tahun yang lalu ia mendapat tawaran dari seorang dokter ekspatriat : 1. Berhenti Merokok dan Sehat, atau 2. Terus Merokok dan Sakit. Atas tawaran yang tidak menarik tersebut, sahabat saya masih berusaha mbujuki dokter, apakah bisa terus merokok dan sehat?<br />
<img src='http://mas-miftah.com/allessa/wp-files/smokerdieyounger.jpg' alt='smoker die younger' /><br />
<span id="more-88"></span><br />
 Keluar dari ruang konsultasi, sahabat saya bertemu dengan seorang dokter Indonesia yang kebetulan seorang penganut Katholik yang taat. Ia kembali menceritakan hasil konsultasinya dengan dokter ekspat, sembari minta nasehat bagaimana caranya berhenti total dari merokok.</p>
<p> Sang dokter yang beragama Katholik justru menertawakan sahabat saya. Bagi sang dokter, sangat lucu orang Islam tidak dapat menghentikan merokok. Sangat tidak masuk akal bagi dokter, bagaimana pada saat berpuasa seseorang dapat berhenti total dari merokok (dan meninggalkan hal-hal lain yang dilarang), tetapi minta nasehat agar bisa berhenti dari merokok.<br />
<img src='http://mas-miftah.com/allessa/wp-files/smokingkills.jpg' alt='Smoking kills' /><br />
 Inti nasehat dari dokter Katholik tersebut adalah seharusnya orang Islam mampu mengambil hikmah dari ibadah yang dilakukan. Ironisnya, hikmah dari ibadah puasa tidak pernah kita dapatkan. Hikmah tidak akan diperoleh selama kita tidak pernah merenungkan pertanyaan seorang anak kecil sebagaimana dideskripsikan dalam puisi Taufik Ghafar Ismail : â€œbuat apa kita berlapar-lapar puasaâ€. Tanpa bertanya dan menemukan jawaban untuk apa kita berpuasa, hikmah sekedar menjadi impian.</p>
<p> Allah S.W.T dan Rasulullah Muhammad S.A.W menamai bulan Ramadhan sebagai bulan penuh kemuliaan, ampunan, rahmah. Tetapi manusia memperlakukan bulan Ramadhan sebagai bulan penuh kemunafikan. Seorang yang biasa bergunjing, tiba-tiba berdzikir. Seorang yang biasa berpenampilan â€œall you can seeâ€, tiba-tiba memakai jilbab. Orang yang biasa dugem ke tempat-tempat â€œbernapas dalam lumpurâ€, tiba-tiba rajin mengunjungi majelis taklim dan masjid.</p>
<p>Aneh memang, jika pada bulan Ramadhan manusia mampu â€œmenghadirkanâ€ Allah S.W.T dalam kehidupan sehari-hari, dengan sangat mudah mencampakkan Allah S.W.T. pada 11 bulan berikutnya. Padahal, makna dari takwa menurut Arvan Pradiansyah adalah â€œmampu menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hariâ€</p>
<p>Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.</p>
<p>Kuningan, 22 September 2006.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Wisanggeni</p>
<p><strong>100% Smoke-free<br />
100 persen bebas asap rokok</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/rokok-dan-puasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ZAKAT, INFAK, WAKAF</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/zakat-infak-wakaf.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/zakat-infak-wakaf.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jun 2006 06:05:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/zakat-infak-wakaf.htm</guid>
		<description><![CDATA[Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb. Perhatian saya tiba-tiba tertuju pada Laporan Arus Kas Periode 30 Shafar 1427 H Dompet Dhuafa Republika (â€œDDRâ€). Arus kas masuk yang bersumber dari zakat, infak, wakaf, dan solidaritas kemanusiaan, sangat mengusik perhatian saya. Berikut saya kutipkan bagian arus kas masuk sebagai berikut : Saya tidak heran dan juga tidak terkejut mengetahui arus kas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb.</p>
<p>Perhatian saya tiba-tiba tertuju pada Laporan Arus Kas Periode 30 Shafar 1427 H Dompet Dhuafa  Republika (â€œDDRâ€). Arus kas masuk yang bersumber dari zakat, infak, wakaf, dan solidaritas kemanusiaan, sangat mengusik perhatian saya. Berikut saya kutipkan bagian arus kas masuk sebagai berikut :<br />
<img src="http://img111.imageshack.us/img111/8328/tabelzakat3bv.jpg" border="0" width="325" alt="Image Hosted by ImageShack.us" /></p>
<p>Saya tidak heran dan juga tidak terkejut mengetahui arus kas masuk dari zakat lebih besar dibandingkan dari infak, wakaf, dan solidaritas kemanusiaan. Tentu saja sangat menggembirakan, umat Islam ternyata patuh untuk membayar zakat. Hal ini menunjukkan orang Islam memang suka mendahulukan yang wajib (â€œFiqh Complianceâ€), sedangkan yang sunah â€œntar duluâ€. DDR kan Cuma salah satu lembaga yang mengumpulkan zakat, infaq, wakaf dan solidaritas kemanusiaan dan masih banyak lembaga lain yang menjalankan fungsi serupa. Barangkali umat Islam menyalurkan zakat, infak, wakaf dan solidaritas kemanusiaan melalui lembaga lain.<br />
<span id="more-75"></span><br />
Arus kas masuk dari solidaritas kemanusiaan yang nihil juga tidak mencengangkan. Bukankah umat Islam baru tergerak menyumbang untuk solidaritas kemanusiaan jika ada bencana?. Setiap ada bencana, umat Islam â€œaji mumpungâ€ memberikan sumbangan. Lihat saja, baru setelah Amerika Serikat dan Masyarakat Eropa melakukan embargo terhadap Palestina, Partai Keadilan Sosial tergerak untuk menggalang dana melalui aksi â€œOne Man One Dollar.â€ Hasilnya juga tidak terlalu mengecewakan, lebih dari 100.000 USD tetapi lebih kecil dari 200.000 USD. Not bad! (punten ndalem sewu, saya tidak menggunakan kata-kata â€œalhamdulillahâ€). Asal tahu saja, 6 orang pemain sepakbola yang menerima gaji antara 110.000 s.d. 130.000 Euro per minggu adalah Ballack, Frank Lampard, Steven Gerard, Ronaldinho, Beckamp, dan Ronaldo. Setahun, 6 orang pesepakbola termahal di dunia tersebut menerima gaji 5.720.000 Euro s.d. 6.760 Euro. Dana yang berhasil dikumpulkan PKS sejumlah lebih dari 100.000 USD itu adalah dari sumbangan 80 % x 220 juta penduduk Indonesia yang mengaku beragama Islam. Atau mungkin lebih tepat, 80 % dari 9 juta penduduk DKI Jakarta yang beragama Islam. </p>
<p>Saya membayangkan arus kas masuk ke DDR yang bersumber dari infak, wakaf, dan solidaritas kemanusiaan bisa lebih dari itu. Hitung saja bahwa 80 % dari 220 juta penduduk Indonesia beragama Islam (= 176 juta). Jika diasumsikan 1 orang Islam menyumbang Rp. 1000,-  per bulan, maka akan diperoleh angka Rp. 176 milyar per bulan. Ah, orang Islam kan banyak yang miskin, OK, turunkan sumbangan 1 orang Islam sebesar Rp. 100,- per bulan, maka akan diperoleh jumlah Rp. 17,6 milyar per bulan. Masih terlalu tinggi? OK, 1 orang Islam â€œhanyaâ€ menyumbang Rp. 1,-  per bulan, maka akan diperoleh jumlah  Rp. 176 juta per bulan. Jika disetahunkan, dengan hanya menyumbang Rp. 1,- per orang per bulan, maka akan diperoleh jumlah Rp. 2,1 milyar per tahun.</p>
<p>Seringkali saya mendengar pesan dari ustadz bahwa â€œsesungguhnya semua yang ada di langit dan di bumi ini milik Allah, dan kepaa Allah semua urusan dikembalikanâ€. Antonio Syafeâ€™i, mualaf yang gigih memperjuangkan ekonomi syariah, menegaskan bahwa manusia hanya mempunyai HAK PENGELOLAAN, hak milik hanya ada pada Allah SWT.</p>
<p>Kalau manusia hanya diberikan hak pengelolaan, lalu mengapa jumlah infaq, wakaf dan solidaritas kemanusiaan tidak sebanding dengan jumlah umat Islam?</p>
<p><strong>TANYA KENAPA?</strong></p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Pamulang, 1 Juni 2006</p>
<p>Wisanggeni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/zakat-infak-wakaf.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JANJI dan KOMITMEN</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/janji-dan-komitmen.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/janji-dan-komitmen.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 May 2006 08:18:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/janji-dan-komitmen.htm</guid>
		<description><![CDATA[Assalamuâ€™alaikum Wr. Wb., Selain suka nonton bal-balan, kegemaran saya yang lain adalah nonton film perang dan kisah tentang mafia. Itulah sebabnya, ketika penjurusan di Strata 1, saya sempat mempertimbangkan untuk mengambil penjurusan sosiologi kriminalitas. Saya memang tidak jadi mengambil penjurusan tersebut, tetapi kegemaran nonton film tentang mafia masih saya lakoni sampai saat ini. Tadi malam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamuâ€™alaikum Wr. Wb.,</p>
<p>Selain suka nonton bal-balan, kegemaran saya yang lain adalah nonton film perang dan  kisah tentang mafia. Itulah sebabnya, ketika penjurusan di Strata 1, saya sempat mempertimbangkan untuk mengambil penjurusan sosiologi kriminalitas. Saya memang tidak jadi mengambil penjurusan tersebut, tetapi kegemaran nonton film tentang mafia masih saya lakoni sampai saat ini.</p>
<p>Tadi malam saya nonton film American Yakuza. Ceritanya berkisah tentang penyamaran seorang anggota FBI ke dalam organisasi Yakuza. Tetapi saya malah lebih tertarik dengan perang antara Yakuza dan Mafia dari Sisilia, Italy.</p>
<p>Nama boleh beda, Yakuza, Mafia atau yang lain. â€œLahan usahaâ€ juga berbeda dan nggak saling rebut. Modus operandi juga nggak sama persis. Tetapi Yakuza, Mafia atau gangster yang menguasai narkoba di Kolumbia sebenarnya sama saja. Siapapun pemimpinnya, Al Capone, Pablo Escobar (almarhum), atau yang lebih â€gaulâ€ seperti Bugsy yang menjadi salah satu â€pemimpin terasâ€ gang Mobster, nilai-nilai dasar mereka sama saja.<br />
<span id="more-73"></span><br />
Saya mencoba mencatat nilai-nilai dasar yang penting bagi Yakuza dan Mafia : KESETIAAN dan KEJUJURAN. Untuk dua nilai dasar ini, taruhannya adalah nyawa.  Setiap anggota yang tidak jujur harus â€disukabumikanâ€. Yakuza meyakini, tidak ada kehormatan dalam ketidakjujuran. Untuk kesetiaan lebih â€kerasâ€ lagi, tidak ada istilah insyaf dan menjadi mantan anggota mafia. Kesetiaan menuntut keanggotaan seumur hidup. Atau, jika telah mendapatkan hidayah dan ingin insyaf, silakan suicide atau minta sekalian dibunuh saja.</p>
<p>Tidak heran kalau anggota mafia memiliki kesetiaan dan kejujuran yang sangat luar biasa kepada organisasinya. Yang bisa menandingi kesetiaan anggota mafia barangkali hanya anggota pasukan khusus. Seorang sniper dari navy seal misalnya, kalau ketangkap dan disiksa, tidak ada ceritanya dia akan mengaduh dan minta ampun. Justru ia akan berteriak keras menyebutkan identitas dirinya dan dari kesatuannya (beda banget ya sama orang Indonesia, lebih suka minta â€surat sakit seumur hidupâ€ agar tidak bisa diadili dan dihukum).</p>
<p>Saya memang bukan anggota mafia, tetapi saya merasa tidak lebih baik dari anggota mafia. Bahkan sekalipun anggota mafia tidak segan-segan merampok, menyiksa dan membunuh musuhnya, saya masih saja tetap merasa tidak lebih baik dari seorang anggota mafia.</p>
<p>Setiap hari saya mengucapkan janji dan komitmen kepada Allah S.W.T, â€Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah S.W.T &#8230;&#8230;&#8230;â€. Kejujuran dan kesetiaan saya kepada Allah S.W.T jauh lebih buruk daripada kejujuran dan kesetiaan seorang anggota mafia. Meskipun sudah ditunjuk sebagai khalifah, masih juga saya tidak berusaha untuk takwa (analogi setia dan jujur). </p>
<p>Untungnya, Allah S.W.T tidak dapat dibandingkan dengan Don Vincenzo Corleone dan Al Capone. Hanya karena Allah S.W.T Maha Pengasih dan Maha Penyayang, saya masih hidup. Bukan karena masih pantas hidup, tetapi karena masih diberikan kesempatan untuk hidup. Seharusnya, dengan derajat ketakwaan seperti saat ini, saya sudah sepantasnya tidak diberikan lagi kesempatan untuk hidup.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Pamulang, 17 Mei 2006</p>
<p>Wisanggeni.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/janji-dan-komitmen.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maria Sharapova dan Hot Stove Rules.</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/maria-sharapova-dan-hot-stove-rules.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/maria-sharapova-dan-hot-stove-rules.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Mar 2006 01:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/maria-sharapova-dan-hot-stove-rules.htm</guid>
		<description><![CDATA[Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb., Seorang psikolog yang belum lama mengenal saya mencoba memetakan kepribadian saya. Dari ngomong ngalor-ngidul sebentar saja, ia sudah mampu secara tepat mengklasifikasikan kepribadian saya dalam kelompok â€œcomplianceâ€. Sisi â€œbaikâ€ dari kepribadian compliance adalah mengedepankan equal before law dan haqqul yaqin bahwa the King can do wrong. Sisi â€œjahatâ€nya orang berkepribadian compliance adalah segala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb.,</p>
<p>Seorang psikolog yang belum lama mengenal saya mencoba memetakan kepribadian saya. Dari ngomong ngalor-ngidul sebentar saja, ia sudah mampu secara tepat mengklasifikasikan kepribadian saya dalam kelompok â€œcomplianceâ€. Sisi â€œbaikâ€ dari kepribadian compliance adalah mengedepankan equal before law dan  haqqul yaqin bahwa the King can do wrong. Sisi â€œjahatâ€nya orang berkepribadian compliance adalah segala sesuatu dilihat dengan aturan. Pokok-e semua harus tunduk dan patuh pada aturan.</p>
<p>Saya menganalogikan peraturan dengan traffic light. Akal sehat saya mengalami kesulitan luar biasa kalau harus memahami lampu merah sebagai jalan terus, lampu kuning siap-siap menerabas, dan lampu hijau diartikan sebagai berhenti. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana kacaunya kehidupan di dunia ini kalau manusia tidak mempunyai kesamaan persepsi terhadap ketiga lampu pengatur lalu lintas tersebut. Saya tidak dapat membayangkan masyarakat macam apa yang akan terwujud kalau haram menjadi halal, wajib menjadi sunah, makruh menjadi mubah.<br />
<span id="more-57"></span><br />
Tetapi Australia memang berbeda dengan Indonesia. Kalau di Indonesia semua bisa diatur dan warna merah, kuning dan hijau dapat berubah-ubah makna sesuai kepentingan seseorang, tidak demikian halnya dengan masyarakat Australia. Tidak satupun petugas keamanan di Australia Open 2006 yang tidak mengenal Maria Sharapova. Tetapi ketika Sharapova lupa membawa / mengenakan identitas resmi yang harus selalu dikenakan di manapun di lingkungan Australia Open 2006, petugas keamanan tidak segan-segan untuk â€œmengusirâ€ ke luar Sharapova dari acara dinner.</p>
<p>Kalau Williams bersaudara Venus dan Serena hadir dengan mengusung tema speed and power, Maria Sharapova and her gang (termasuk di dalam kelompok ini Anna Kournikova) hadir dengan tema speed, sweet and sexy. Tetapi sekali aturan tetap aturan. â€Bulu-buluâ€ Sharapova yang lembut ternyata â€œgak ngaruhâ€, si petugas keamanan rupanya tidak bergeming, Sharapova tetap â€diusirâ€ dan dipersilakan kembali setelah mengenakan kartu identitas.</p>
<p>Hot Stove Rules atawa hukum panci membara idealnya diterapkan tanpa malu-malu. Jika seseorang menyentuh â€“ atau kalau berani memegang- panci membara, ia akan mengalami panas yang sama dan dirasakan seketika. Panci membara pun tidak diskriminatif, siapapun yang menyentuhnya akan merasakan sakit karena kepanasan. Panci membara juga selalu konsisten, bahwa panci membara akan selalu panas. Tidak ada cerita panci membara kalau dipegang dirasakan dingin.</p>
<p>Persoalannya, manusia kan bukan panci membara yang tidak diskriminatif. Manusia di mana saja sama saja. Tidak usah berharap banyak. Only in God we trust.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Pamulang, 10 Maret 2006.</p>
<p>Wisanggeni</p>
<p>Read More about  <strong>Hot Stove Rule</strong></p>
<p><strong>The Hot Stove Rule &#8211; Discipline</strong></p>
<p>Ever-increasing employment legislation makes it harder and harder for managers to remember how the law operates in the workplace. However, there are a few simple principles which are easy to remember and which provide a solid basis in helping both staff and managers understand both the spirit and the letter of the law.</p>
<p>The <strong>Hot Stove Rule</strong> is one such principle and relates to disciplinary measures in the workplace. When you touch a hot stove marked &#8220;Donâ€™t Touch&#8221; the discipline is immediate, with warning, consistent and impersonal.</p>
<p>So frequently, I have known managers to become exasperated at an employeeâ€™s actions (or in some cases, lack of action) to the point that they want to dismiss them instantly or, at the very least, progress to a final written warning. An angry and emotional response to an employeeâ€™s behaviour or poor performance will do more harm than good, both in terms of employee relations and with regard to potential financial costs.</p>
<p>Although I may not always give the managers the answer they want to hear, it is important to take a deep breath, step back and reflect for a moment.</p>
<p>*Investigating the situation</p>
<p>Did the employee know that what they have done, or failed to do, is wrong? It may be obvious to you or me but is this a company rule which is documented somewhere? If so, has the employee had a copy of this and, more importantly, can the manager prove the employee has had a copy of this?</p>
<p>If the issue concerns performance, does the employee have a written and up-to-date job description with clearly identified standards of performance? Has previous performance which falls below standard been addressed or has it been allowed to continue unabated?</p>
<p>If you attempt to formally discipline someone without addressing these issues, you may find yourself on the receiving end of a very upset and shocked employee whose defence is that no-one had said anything to them in the past, that they had seen others do the same thing and nothing had been said and that they had no idea theyâ€™d done anything wrong.</p>
<p>*Key principles to remember</p>
<p>Always remember the <strong>Hot Stove Rule</strong> where discipline is concerned:-<br />
* 	You had a warning â€“ you knew what would happen if you touched the stove<br />
* 	The penalty was consistent â€“ everyone gets the same treatment<br />
* 	The penalty is impersonal â€“ a person is burned not because of who he or she is, but because the stove was touched<br />
* 	The penalty is not delayed<br />
* 	So check out the facts first, follow due process and, if appropriate, apply the discipline as soon after the event as investigations will allow. If you fail to be consistent, you may end up getting your own fingers burnt!<br />
taken from http://www.jhwuk.co.uk/N-Discipline.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/maria-sharapova-dan-hot-stove-rules.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SOPAN SANTUN</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/sopan-santun.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/sopan-santun.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Feb 2006 02:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/sopan-santun.htm</guid>
		<description><![CDATA[Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb., Jumâ€™at 24 Pebruari 06 yang lalu, saya leyeh-leyeh sambil nonton acara yang mirip-mirip penyerahan Piala Oscar di negeri Paman Sam, Pada acara British Academy Film Award (BAFTA) 2006, Stephen Frey yang diminta untuk menjadi presenter membuka acara dengan gaya dan suasana santai. Setelah berbasa-basi mengucapkan â€œSelamat Malam dan Selamat Datangâ€, Frey mengatakan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb.,</p>
<p>Jumâ€™at 24 Pebruari 06 yang lalu, saya leyeh-leyeh sambil nonton acara yang mirip-mirip penyerahan Piala Oscar di negeri Paman Sam, Pada acara British Academy Film Award (BAFTA) 2006, Stephen Frey yang diminta untuk menjadi presenter membuka acara dengan gaya dan suasana santai. Setelah berbasa-basi mengucapkan â€œSelamat Malam dan Selamat Datangâ€, Frey mengatakan bahwa â€œkeramahtamahan dan kesopanan anda pada malam ini merupakan bukti keberhasilan Ibu andaâ€.<br />
<span id="more-51"></span><br />
Tidak ada yang tertawa dan tidak ada yang â€œngehâ€ dengan ucapan Frey.  Saya yang bukan artis dan tidak ada hubungan dengan BAFTA malah â€semriwingâ€ dengan ucapan Frey. Dalam bahasa dan kalimat yang berbeda tetapi mempunyai makna yang sama, 31 tahun yang lalu bapak saya pernah mengucapkan kalimat itu kepada saya.</p>
<p>Masa kecil saya tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain. Seperti anak-anak sekolah dasar, saya ikut permainan apa saja : main kelereng, layangan, sepak bola. Saat Ramadhan biasanya saya juga nggak mau kalah untuk bersama teman membuat dan main meriam bambu. Tetapi permainan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah ketapel atau kalau dalam bahasa Jawa disebut plintengan.</p>
<p>Saya mencoba meringkas kehidupan saya dari balita sampai dengan remaja adalah sebagai berikut : clingus (pemalu dan malu-maluin), ngglidik (nakalnya anak tingkat sekolah dasar), ndugal (nakalnya anak-anak tingkat SLTP) dan kurang ajar (nakalnya anak tingkat SLTA).</p>
<p>Gara-gara main ketapel saya tidak pernah lupa dengan hukuman yang saya terima dari bapak saya. Pernah suatu saat ketapel saya mengenai dan memecahkan kaca rumah. Karena yang melakukan saya,  sangat tidak mungkin saya lempar batu sembunyi tangan. Saya segera masuk rumah dan melapor kepada bapak saya bahwa saya lah yang telah memecahkan kaca, mengaku salah, minta maaf. Tidak lupa saya memberi â€bonusâ€ kepada bapak saya â€saya siap dihukumâ€.</p>
<p>Barangkali melihat â€kejantananâ€ saya, bapak saya â€hanyaâ€ menghukum saya untuk menulis indah kalimat â€Saya tidak akan main ketapel lagiâ€ sebanyak seratus kali. Jujur saja, hukuman itu sangat ringan. Sambil bersantai-santai saya menyelesaikan tugas menulis indah dalam waktu 2 jam.</p>
<p>Saya kembali melapor dan menyerahkan tugas kepada bapak saya. Setelah diperiksa, bapak saya memasukkan â€kerajinan tanganâ€ saya tersebut dalam amplop bersama-sama dengan surat yang ditulis oleh bapak saya. Kemudian bapak saya menjelaskan bahwa saya harus menyerahkan â€tulisan indahâ€ saya dan surat dari bapak saya kepada wali kelas saya. Sebagai bukti bahwa saya telah menyerahkan surat tersebut adalah tanda terima dari wali kelas. </p>
<p>Kontan saja saya menyatakan â€bandingâ€ dan â€kasasiâ€ atas hukuman tambahan tersebut. Saya mengatakan sangat malu kalau harus menyerahkannya kepada wali kelas. Menanggapi â€bandingâ€ dan â€kasasiâ€ dari saya, apalagi mendegar alasan saya yang malu, mendadak bapak saya tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>Sambil mbujuki saya untuk mempunyai keberanian menyerahkan surat tersebut, bapak saya bilang bahwa â€dengan menyerahkan surat tersebut kepada wali kelasmu, seharusnya bapak yang malu. Bapak tidak hanya menunjukkan kenakalanmu kepada wali kelasmu, tetapi bapak juga menunjukkan kegagalan sebagai orang tuamu mendidikmu.â€</p>
<p>Saya memang kemudian menyerahkan surat tersebut kepada wali kelas dan menunjukkan tanda terima dari wali kelas kepada bapak saya. Saya harus menyatakan rasa terima kasih kepada bapak saya karena telah mengajarkan saya untuk hidup menjadi manusia yang terhormat, berani dan mampu bertanggung jawab dan pantang membuat malu orang lain.</p>
<p>Pamulang, 26 Pebruari 2006</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Wisanggeni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/sopan-santun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>POTONG PADI.</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/potong-padi.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/potong-padi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2006 02:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/potong-padi.htm</guid>
		<description><![CDATA[â€œSEBAB AKU BERSUKA CITA BUKAN KARENA AKU MEMOTONG PADI, TAPI SEBAB AKU BERSUKA CITA KARENA AKU MEMOTONG PADI YANG AKU TANAMâ€. Kata-kata â€œbersayapâ€ tersebut di atas tidak saya kutip dari lagu Potong Padi yang biasa dinyanyikan oleh saudara-saudara kita dari Kawanua. Bagi anda yang pernah membaca buku Max Havelaar, anda dengan segara dapat menebak bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>â€œSEBAB AKU BERSUKA CITA BUKAN KARENA AKU MEMOTONG PADI, TAPI SEBAB AKU BERSUKA CITA KARENA AKU MEMOTONG PADI YANG AKU TANAMâ€.</em></strong></p>
<p>Kata-kata â€œbersayapâ€ tersebut di atas tidak saya kutip dari lagu Potong Padi yang biasa dinyanyikan oleh saudara-saudara kita dari Kawanua. Bagi anda yang pernah membaca buku  Max Havelaar, anda dengan segara dapat menebak bahwa motto itu berasal dari Multatuli.<br />
<span id="more-50"></span><br />
Teman-teman dekat saya merasa kecewa kalau harus terpaksa minta tolong kepada saya. Boro-boro dibantu, pulang-pulang malah membawa â€œsumpah serapahâ€ dari saya. Saya memang tidak suka menolong orang. Hanya 4 â€œjenis manusiaâ€ yang saya tolong : anak yatim piatu, 2. kaum dhuafa. 3. para penyandang cacat, dan 4. orang-orang tua yang sudah, nuwun sewu â€œjompoâ€.</p>
<p>Orang normal mestinya tidak minta tolong. Orang yang jiwanya sehat tidak akan mudah menyerah dan bersegera minta tolong orang lain. Orang yang fisiknya sehat seharusnya diimbangi dengan jiwa yang sehat. Ironisnya, justru orang yang secara fisik normal, sejatinya adalah orang yang cacat mental. Kebalikannya, orang yang secara fisik tidak sempurna, sejatinya adalah orang yang sehat mental.</p>
<p>Itulah sebabnya, ketika Gus Dur secara sistematis â€œdieliminasiâ€ sebagai kandidat calon presiden, para â€œabdi dalemâ€nya merasa perlu protes keras sambil berdemo. Yang menarik, meskipun basis kuat NU adalah Jawa Timur, tetapi cara protes arek-arek NU tidak meniru cara-cara bonek â€œbobotohâ€ (baca : suporter) Persebaya.  Kalau hanya â€œkalah gantengâ€ dengan SBY, mbok yao Gus Dur jangan dikuyo-kuyo kayak gitu. </p>
<p>Dengan cerdas dan trengginas, para â€œabdi dalemâ€ yang â€œpejah gesang nderek Gus Durâ€, menayangkan iklan yang jitu. Siapa bilang orang cacat tidak bisa berkarya?. Disebutnya lah kemudian nama-nama orang yang tidak sempurna tetapi sukses : Stephen Hawking (di bidang fisika), Ludwig von Beethoven (musik klasik), â€œFDRâ€ atau Franklin Delano Roosevelt (negarawan). Ada juga Marlee Mathleen di bidang film yang ngetop saat tampil bersama dan â€œB3â€ (bobok-bobok bersama) dengan  William Hurt dalam â€œChildren of the Lesser Godâ€. Beethoven mempunyai masalah dengan indera pendengarannya, tetapi para kritikus musik klasik justru berpendapat bahwa banyak simponi karya Beethoven yang digolongkan sebagai masterpiece diciptakan setelah ia mengalami gangguan dengan pendengarannya. Sekedar tambahan informasi, Robert Gillaume Marconi dan Alexander Graham Bell kan juga orang-orang yang tidak mempunyai fisik sempurna. Marconi kemudian dikenal sebagai penemu radio, sedangkan Bell kemudian dikenal sebagai penemu telepon.</p>
<p>Bagi saya, Gus Dur sebenarnya termasuk â€œorang hebatâ€, tulisannya pun saya baca. Yang sedikit â€œmengganguâ€, barangkali sikapnya yang â€œesuk tempe sore deleâ€. Bahkan, mungkin lebih hebat lagi : â€œesuk tempe, awane wis dadi deleâ€. Sikapnya yang tidak konsisten, atau malah pemikirannya yang sangat maju, memang membingungkan bagi banyak orang sehingga mudah sekali dianalogikan dengan tempe dan dele.</p>
<p>Alasan saya tidak suka membantu orang sehat dan dikarunia fisik utuh sebenarnya sangat sederhana. Lha wong orang tuna netra saja dengan modal jempolnya mampu mendapatkan Rp. 30.000,- untuk 1 jam memijit. Kok orang normal dan berpendidikan tinggi kok malah minta dibantu?</p>
<p>Nggak malu sama orang-orang anak yatim, kaum dhuafa, cacat fisik, dan orang-orang tua yang sudah lemah? Kalau susah bilang â€œYa sihâ€, belajarlah kepada Dian Sastrowardoyo.</p>
<p>Barangkali Eleanor Roosevelt benar ketika ia berkata â€œno one can make you feel inferior without your consentâ€</p>
<p><strong>Ya sih.</strong></p>
<p>Pamulang, 3 Januari 2005</p>
<p>Salam,</p>
<p>Wisanggeni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/potong-padi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muslim n Mukmin</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/muslim-n-mukmin.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/muslim-n-mukmin.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2006 01:35:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/muslim-n-mukmin.htm</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb., Seberapa pentingkah status sosial bagi manusia?. Kesultanan di Yogyakarta dan Kesunanan di Surakarta / Solo, baik itu Kasultanan Ngayogjokarto Hadinigrat, Paku Alam, Mangkunegaran, dan Pakubuwono, sadar benar bahwa status sosial bagi manusia adalah maha penting. Sebutlah beberapa gelar kebangsawanan mulai dari R (Raden), RM (Raden Mas), BRM (Bandoro Raden Mas), KPH (Kanjeng Pangeran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb.,</p>
<p>Seberapa pentingkah status sosial bagi manusia?. Kesultanan di Yogyakarta dan Kesunanan di Surakarta / Solo, baik itu Kasultanan Ngayogjokarto Hadinigrat, Paku Alam, Mangkunegaran, dan Pakubuwono, sadar benar bahwa status sosial bagi manusia adalah maha penting. </p>
<p>Sebutlah beberapa gelar kebangsawanan mulai dari R (Raden), RM (Raden Mas), BRM (Bandoro Raden Mas), KPH (Kanjeng Pangeran Haryo), KRT (Kanjeng Raden Tumenggung), GBPH (Gusti Bandoro Pangeran Haryo), dan Sultan untuk mereka yang berjenis kelamin maskulin. Untuk wanita, diberikan gelar kebangsawanan Rr. (Raden Roro), R.Ay (Raden Ayu), R.Aj (Raden Ajeng), BRA (Bandoro Raden Ayu), GBRA (Gusti Bandoro Raden Ayu). Itu hanya contoh, mungkin bekas-bekas kerajaan yang lain masih juga melestarikan gelar-gelar kebangsawanan. Sangking bingungnya teman saya, dia mengira bahwa KRL juga termasuk salah satu gelar kebangsawanan dari Kasultanan di Yogya dan Kasunanan di Surakarta. Padahal KRL kan singkatan dari Kereta Listrik yang beroperasi di Jabotabek.<br />
<span id="more-49"></span><br />
Hubungan-hubungan antar manusia di lingkungan Kasultanan dan Kasunanan, dengan sendirinya sangat tergantung pada gelar-gelar kebangsawanan. Mereka yang memiliki gelar kebangsawanan yang lebih tinggi (bukan karena usaha, tetapi karena keturunan), boleh berjalan tegak lurus dan duduk leyeh-leyeh. Sial bagi mereka yang bergelar kebangsawanan terendah, atau rakyat biasa, meskipun oleh Allah S.W.T diberikan kaki yang kuat dan tubuh yang sehat, toh di hadapan keturunan bangsawan harus jalan jongkok. Orang yang tidak tahu barangkali mengira mereka sedang diplonco. Ah, kok kayak mahasiswa APDN ya?</p>
<p>Memang, gelar kebangsawanan semacam itu dalam hubungan antar manusia manfaatnya sangat ampuh. Tidak percaya?. Saya punya tetangga dari Yogya. Kalau menghubungi teman tersebut melalui telepon rumah, saya biasa di&#8221;interogasi&#8221; oleh pembantu rumah tangga yang dipercaya juga sebagai operator telepon ad interim. Begitu saya jawab bahwa saya &#8220;Ngarso Dalem&#8221;, si operator  cepat-cepat menyampaikan kepada tuan rumah.</p>
<p>Bagaimana hubungan manusia dengan Allah S.W.T.? Terus terang saya sering kali tidak mengerti mengapa orang-orang tertentu memasang stiker, biasanya di kendaraan, misalnya &#8220;We are Moslem&#8221;. Dalam Al-Qur&#8217;an, saya menemukan beberapa kata seperti Muttaqien, Mukhlis, Mukmin, Muslim, dan Mukhsin. Yang saya  ndak mengerti, kenapa orang tidak memasang stiker &#8220;We are Muttaqien&#8221; atau &#8220;We are Mukmin&#8221;, misalnya.</p>
<p>Sudah dua malam ini saya ikut tahlilan tetangga yang meninggal dunia. Yang menjadi Ustadz teman saya juga, meskipun masih muda, sang Ustadz cukup bijaksana ketika ia mengingatkan bahwa umat Islam sejatinya juga mempunyai derajat dalam hubungannya dengan Allah S.W.T?. Mau tahu derajat manusia dalam konteks hablun minallah?</p>
<p>Kata Ustadz, kalau sekedar jadi orang Islam, itu baru menjadi muslim doank. Jangan terlalu happy kalau baru menjadi muslim. Sebab, setelah Muslim, di atasnya ada Mukmin, Mukhlis, Mukhsin, dan yang paling mulia adalah Muttaqien. </p>
<p>Banyak orang berlomba-lomba untuk menyelesaikan pendidikan S1, S2, S3. Banyak orang berduyun-duyun menumpuk harta kekayaan. Saya tidak tahu apakah masih sempat orang bertanya &#8220;Siapakah saya?&#8221;</p>
<p>Para ahli filsafat berkata bahwa &#8220;Manusia yang mengenal dirinya sendiri maka ia akan mengenal Tuhannya.&#8221;</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Kuningan, 15 Juli 2005</p>
<p>Wisanggeni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/muslim-n-mukmin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dupak Bujang</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/dupak-bujang.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/dupak-bujang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2006 05:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Goodies]]></category>
		<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/2006/02/21/dupak-bujang.htm</guid>
		<description><![CDATA[Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb. Saya menyatakan salut kepada isteri saya, caranya â€œmenjinakkanâ€ sikap dan perilaku saya mungkin boleh dicontoh. Entah membaca koran, majalah atau buku apa, dia mengatakan bahwa â€œOrang-orang Jepang menyebut orang yang tidak tertib, apalagi melanggar lalu lintas, adalah (punten dalem sewu) anjingâ€. Saya tidak tahu mengapa isteri saya mengemukakan itu. Mungkin saja melihat saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb.</p>
<p>Saya menyatakan salut kepada isteri saya, caranya â€œmenjinakkanâ€ sikap dan perilaku saya mungkin boleh dicontoh. Entah membaca koran, majalah atau buku apa, dia mengatakan bahwa â€œOrang-orang Jepang menyebut orang yang tidak tertib, apalagi melanggar lalu lintas, adalah (punten dalem sewu) anjingâ€. Saya tidak tahu mengapa isteri saya mengemukakan itu. Mungkin saja melihat saya suka nonton start dan pit stop lomba F1, boleh jadi dia takut saya nyetir ugal-ugalan seperti Juan Pablo Montoya.</p>
<p>Disindir begitu oleh isteri, saya jadi teringat cara orang Jawa untuk melakukan kontrol sosial. Untuk urusan kontrol sosial ini, orang Jawa memperkenalkan istilah yang rada-rada susah dihafal : DUPAK BUJANG, ASEM MANTRI, dan SEMU BUPATI.<br />
<span id="more-48"></span><br />
Istilah dupak bujang diberikan untuk orang-orang yang tidak mau dan tidak mampu melakukan swa kontrol. Untuk tunduk dan taat terhadap suatu aturan, orang yang berkarakter dupak bujang selalu minta dikontrol oleh lingkungan sosialnya. Orang seperti ini biasanya kalau tidak dijewer, ditempeleng, digebuk, atau diancam mati, tidak akan sadar dan patuh kepada norma sosial. </p>
<p> Istilah asem mantri diberikan untuk orang-orang yang mau dan mampu melakukan kontrol diri, tetapi kadang-kadang masih membutuhkan kontrol sosial dari lingkungannya. Meskipun orang berkarakter asem mantri kadang-kadang masih perlu dijewer, tetapi ia juga mampu mengkoreksi dirinya sendiri agar tidak mengganggu dan merugikan orang lain. </p>
<p> Sedangkan istilah semu bupati diberikan untuk orang-orang terpilih yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk melakukan kontrol dari dalam dirinya sendiri. Bahkan orang ini seperti tidak butuh kontrol dari luar, karena dirinya sendiri sudah mendapatkan &#8220;pencerahan&#8221; sehingga semua perbuatannya selalu menghindari pelanggaran terhadap norma-norma sosial. </p>
<p> Dulu sempat pernah ada joke yang mungkin saja tidak benar. Orang nomor 1 di zaman orde baru konon adalah orang yang paling mahir melakukan kontrol sosial. Pada saat beliau masih berjaya, hanya dengan &#8220;berdehem&#8221; para abdi dalemnya sudah tahu berapa orang yang akan diinterogasi . Kalau &#8220;batuk-batuk&#8221;, para abdi dalemnya  akan menafsirkan sekian orang mesti diinapkan di &#8220;Hotel Pro Deo&#8221; alias rumah tahanan atau LP. Pernah beliau saat pulang dari kunjungan dari luar negeri memberikan jumpa pers di pesawat udara dan beliau berkata bahwa kalau ada yang mbalelo, maka beliau tidak akan segan-segan main gebuk. Mendengar kata &#8220;gebuk&#8221;, para abdi dalemnya justru merinding bulu kuduknya. Kata â€œgebukâ€ kan bisa ditafsirkan sekian orang mesti &#8220;disukabumikan&#8221;.</p>
<p>Belakangan, seorang sahabat yang juga seorang psikolog, memberi tahu saya bahwa Dupak Bujang, Asem Mantri dan Semu Bupati itu ada hubungannya dengan LOCUS OF CONTROL yang dapat dibedakan menjadi internal locus of control dan external locus of control. Orang-orang yang mau dan mampu melakukan kontrol dari dalam diri disebut mempunyai internal locus of control yang baik. Sedangkan orang-orang yang selalu harus diingatkan untuk berbuat baik, disebut mempunyai external locus of control.   Dupak Bujang dan Asem Mantri dapat dikelompokan dalam external locus of control, dan Semu Bupati identik dengan internal locus of control.</p>
<p>Pamulang, 6 Oktober 2005</p>
<p>Salam</p>
<p>Wisanggeni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/dupak-bujang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehormatan.</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/kehormatan.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/kehormatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2006 05:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Goodies]]></category>
		<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/2006/02/21/kehormatan.htm</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum Wr. Wb., Apakah dengan menyandang gelar kesarjanaan (S1, S2, S3) seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati? Apakah dengan menyandang gelar kebangsawanan seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati? Apakah dengan menyandang gelar keagamaan (Haji / Hajjah, Kiai Haji, Uztadz / Ustadzah) seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati? Apakah dengan menyandang jabatan tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum Wr. Wb.,</p>
<p>Apakah dengan menyandang gelar kesarjanaan (S1, S2, S3) seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?</p>
<p>Apakah dengan menyandang gelar kebangsawanan seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?</p>
<p>Apakah dengan menyandang gelar keagamaan (Haji / Hajjah, Kiai Haji, Uztadz / Ustadzah) seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?<br />
<span id="more-47"></span><br />
Apakah dengan menyandang jabatan tinggi (Manager, Direktur, Menteri, Presiden, Jenderal) seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?</p>
<p>Apakah dengan berumur lebih tua dari orang lain seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?</p>
<p>Apakah dengan status sosial ekonomi yang relatif tinggi seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?</p>
<p>Pertanyaan bermakna sama dapat dilanjutkan  dan jawabannya bisa berbeda-beda sesuai kepentingan. Bagi orang yang â€œsudah termakanâ€ propaganda â€œYou are what you wearâ€, â€œYou are what you eatâ€, â€œYou are what you driveâ€, boleh jadi jawabannya â€œYaâ€.</p>
<p>Sepengetahuan saya, semua orang sama. Sama-sama ditunjuk sebagai khalifah, diberikan ruh yang suci, dan sama-sama diperintah untuk beribadah. Perbedaan manusia hanya terletak pada tingkat ketakwaan dan kemuliaan akhlak.</p>
<p>Tetapi hidup di masyarakat yang menganut â€œideologiâ€ the king can do no wrong dan father or mother knows the best, tingkat ketakwaan dan akhlak sering dilupakan. Tanpa introspeksi apakah dirinya bertakwa dan berakhlak mulia, seseorang yang merasa lebih (kaya, tua, tinggi pendidikan, tinggi jabatan, dll) merasa berhak pula untuk dihormati.</p>
<p>Kuningan, 14 Pebruari 2006.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Wisanggeni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/kehormatan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulut</title>
		<link>http://mas-miftah.com/allessa/mulut.html</link>
		<comments>http://mas-miftah.com/allessa/mulut.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2006 05:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MIFTAH - Ayahnya Allessa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Goodies]]></category>
		<category><![CDATA[Wisanggeni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mas-miftah.com/allessa/2006/02/21/mulut.htm</guid>
		<description><![CDATA[Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb., Seorang anggota DPR yang terhormat tidak mengetahui bahwa mulut dan tinju mempunyai â€œhubungan dekatâ€. Gara-gara berpendapat â€œvocalâ€ dalam acara fit and proper test calon Panglima ABRI, ia mendapat â€œkadeudeuhâ€ bogem mentah yang â€œmendaratâ€ di wajahnya. Mulutmu adalah harimaumu, begitu peribahasa mengingatkan kepada kita untuk selalu berhati-hati dengan mulut kita. Tentu saja tidak berarti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamuâ€™alaikum Wr.Wb.,</p>
<p>Seorang anggota DPR yang terhormat tidak mengetahui bahwa mulut dan tinju mempunyai â€œhubungan dekatâ€. Gara-gara berpendapat â€œvocalâ€ dalam acara fit and proper test calon Panglima ABRI, ia mendapat â€œkadeudeuhâ€ bogem mentah yang â€œmendaratâ€ di wajahnya.</p>
<p>Mulutmu adalah harimaumu, begitu peribahasa mengingatkan kepada kita untuk selalu berhati-hati dengan mulut kita. Tentu saja tidak berarti bahwa kalau mulut lancang lalu setiap orang boleh melayangkan pukulan ke mulut kita. Yang paling penting adalah kita berhati-hati dengan mulut.<br />
<span id="more-46"></span><br />
Konon, kalau manusia dipreteli (baca : dilucuti), maka yang tertinggal cuma mulut dan hati. Dalam perjalanan menuju kantor, saya beruntung mendengarkan kutbah pasca subuh dari seorang ustadz. Sembari mengutip hadits sahih yang saya sudah lupa, ustadz menjelaskan hubungan antara mulut dan hati dapat diformulasikan sebagai berikut :</p>
<p>Mulut orang yang bertakwa dan berakhlak mulia terletak di belakang hatinya. Artinya, orang yang bertakwa dan berakhlak mulia mempunyai hati yang mampu menjadi â€filterâ€ untuk men-screening apa saja yang akan diucapkan oleh mulut. Ringkas kata, orang yang bertakwa dan berakhlak mulia, hatinya mampu menjaga mulutnya. </p>
<p>Mulut orang yang tidak bertakwa dan juga tidak berakhlak mulia terletak di muka hatinya. Tanpa dijelaskan panjang lebar anda juga sudah mengerti. Tidak ada yang berfungsi untuk menjadi filter bagi mulut. </p>
<p>Jangan kaget kalau dalam kehidupan sehari-hari menemukan orang yang letak mulut dan hatinya terbalik-balik. Sangat menyedihkan memang, orang-orang yang sepatutnya kita hormati dan muliakan di tempat terhormat, letak mulutnya di depan hatinya.</p>
<p>Pamulang, 12 Pebruari 2006.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Wisanggeni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mas-miftah.com/allessa/mulut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

