2006-05-17
JANJI dan KOMITMEN
Blog Post by : MIFTAH - Ayahnya AllessaAssalamu’alaikum Wr. Wb.,
Selain suka nonton bal-balan, kegemaran saya yang lain adalah nonton film perang dan kisah tentang mafia. Itulah sebabnya, ketika penjurusan di Strata 1, saya sempat mempertimbangkan untuk mengambil penjurusan sosiologi kriminalitas. Saya memang tidak jadi mengambil penjurusan tersebut, tetapi kegemaran nonton film tentang mafia masih saya lakoni sampai saat ini.
Tadi malam saya nonton film American Yakuza. Ceritanya berkisah tentang penyamaran seorang anggota FBI ke dalam organisasi Yakuza. Tetapi saya malah lebih tertarik dengan perang antara Yakuza dan Mafia dari Sisilia, Italy.
Nama boleh beda, Yakuza, Mafia atau yang lain. “Lahan usaha†juga berbeda dan nggak saling rebut. Modus operandi juga nggak sama persis. Tetapi Yakuza, Mafia atau gangster yang menguasai narkoba di Kolumbia sebenarnya sama saja. Siapapun pemimpinnya, Al Capone, Pablo Escobar (almarhum), atau yang lebih â€gaul†seperti Bugsy yang menjadi salah satu â€pemimpin teras†gang Mobster, nilai-nilai dasar mereka sama saja.
Saya mencoba mencatat nilai-nilai dasar yang penting bagi Yakuza dan Mafia : KESETIAAN dan KEJUJURAN. Untuk dua nilai dasar ini, taruhannya adalah nyawa. Setiap anggota yang tidak jujur harus â€disukabumikanâ€. Yakuza meyakini, tidak ada kehormatan dalam ketidakjujuran. Untuk kesetiaan lebih â€keras†lagi, tidak ada istilah insyaf dan menjadi mantan anggota mafia. Kesetiaan menuntut keanggotaan seumur hidup. Atau, jika telah mendapatkan hidayah dan ingin insyaf, silakan suicide atau minta sekalian dibunuh saja.
Tidak heran kalau anggota mafia memiliki kesetiaan dan kejujuran yang sangat luar biasa kepada organisasinya. Yang bisa menandingi kesetiaan anggota mafia barangkali hanya anggota pasukan khusus. Seorang sniper dari navy seal misalnya, kalau ketangkap dan disiksa, tidak ada ceritanya dia akan mengaduh dan minta ampun. Justru ia akan berteriak keras menyebutkan identitas dirinya dan dari kesatuannya (beda banget ya sama orang Indonesia, lebih suka minta â€surat sakit seumur hidup†agar tidak bisa diadili dan dihukum).
Saya memang bukan anggota mafia, tetapi saya merasa tidak lebih baik dari anggota mafia. Bahkan sekalipun anggota mafia tidak segan-segan merampok, menyiksa dan membunuh musuhnya, saya masih saja tetap merasa tidak lebih baik dari seorang anggota mafia.
Setiap hari saya mengucapkan janji dan komitmen kepada Allah S.W.T, â€Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah S.W.T ………â€. Kejujuran dan kesetiaan saya kepada Allah S.W.T jauh lebih buruk daripada kejujuran dan kesetiaan seorang anggota mafia. Meskipun sudah ditunjuk sebagai khalifah, masih juga saya tidak berusaha untuk takwa (analogi setia dan jujur).
Untungnya, Allah S.W.T tidak dapat dibandingkan dengan Don Vincenzo Corleone dan Al Capone. Hanya karena Allah S.W.T Maha Pengasih dan Maha Penyayang, saya masih hidup. Bukan karena masih pantas hidup, tetapi karena masih diberikan kesempatan untuk hidup. Seharusnya, dengan derajat ketakwaan seperti saat ini, saya sudah sepantasnya tidak diberikan lagi kesempatan untuk hidup.
Wassalam,
Pamulang, 17 Mei 2006
Wisanggeni.
