2006-02-14
Kehormatan.
Assalamualaikum Wr. Wb.,
Apakah dengan menyandang gelar kesarjanaan (S1, S2, S3) seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?
Apakah dengan menyandang gelar kebangsawanan seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?
Apakah dengan menyandang gelar keagamaan (Haji / Hajjah, Kiai Haji, Uztadz / Ustadzah) seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?
Apakah dengan menyandang jabatan tinggi (Manager, Direktur, Menteri, Presiden, Jenderal) seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?
Apakah dengan berumur lebih tua dari orang lain seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?
Apakah dengan status sosial ekonomi yang relatif tinggi seseorang menjadi lebih terhormat dan patut dihormati?
Pertanyaan bermakna sama dapat dilanjutkan dan jawabannya bisa berbeda-beda sesuai kepentingan. Bagi orang yang “sudah termakan” propaganda “You are what you wear”, “You are what you eat”, “You are what you drive”, boleh jadi jawabannya “Ya”.
Sepengetahuan saya, semua orang sama. Sama-sama ditunjuk sebagai khalifah, diberikan ruh yang suci, dan sama-sama diperintah untuk beribadah. Perbedaan manusia hanya terletak pada tingkat ketakwaan dan kemuliaan akhlak.
Tetapi hidup di masyarakat yang menganut “ideologi” the king can do no wrong dan father or mother knows the best, tingkat ketakwaan dan akhlak sering dilupakan. Tanpa introspeksi apakah dirinya bertakwa dan berakhlak mulia, seseorang yang merasa lebih (kaya, tua, tinggi pendidikan, tinggi jabatan, dll) merasa berhak pula untuk dihormati.
Kuningan, 14 Pebruari 2006.
Wassalam,
Wisanggeni