2006-02-22
Muslim n Mukmin
Assalamu’alaikum Wr.Wb.,
Seberapa pentingkah status sosial bagi manusia?. Kesultanan di Yogyakarta dan Kesunanan di Surakarta / Solo, baik itu Kasultanan Ngayogjokarto Hadinigrat, Paku Alam, Mangkunegaran, dan Pakubuwono, sadar benar bahwa status sosial bagi manusia adalah maha penting.
Sebutlah beberapa gelar kebangsawanan mulai dari R (Raden), RM (Raden Mas), BRM (Bandoro Raden Mas), KPH (Kanjeng Pangeran Haryo), KRT (Kanjeng Raden Tumenggung), GBPH (Gusti Bandoro Pangeran Haryo), dan Sultan untuk mereka yang berjenis kelamin maskulin. Untuk wanita, diberikan gelar kebangsawanan Rr. (Raden Roro), R.Ay (Raden Ayu), R.Aj (Raden Ajeng), BRA (Bandoro Raden Ayu), GBRA (Gusti Bandoro Raden Ayu). Itu hanya contoh, mungkin bekas-bekas kerajaan yang lain masih juga melestarikan gelar-gelar kebangsawanan. Sangking bingungnya teman saya, dia mengira bahwa KRL juga termasuk salah satu gelar kebangsawanan dari Kasultanan di Yogya dan Kasunanan di Surakarta. Padahal KRL kan singkatan dari Kereta Listrik yang beroperasi di Jabotabek.
Hubungan-hubungan antar manusia di lingkungan Kasultanan dan Kasunanan, dengan sendirinya sangat tergantung pada gelar-gelar kebangsawanan. Mereka yang memiliki gelar kebangsawanan yang lebih tinggi (bukan karena usaha, tetapi karena keturunan), boleh berjalan tegak lurus dan duduk leyeh-leyeh. Sial bagi mereka yang bergelar kebangsawanan terendah, atau rakyat biasa, meskipun oleh Allah S.W.T diberikan kaki yang kuat dan tubuh yang sehat, toh di hadapan keturunan bangsawan harus jalan jongkok. Orang yang tidak tahu barangkali mengira mereka sedang diplonco. Ah, kok kayak mahasiswa APDN ya?
Memang, gelar kebangsawanan semacam itu dalam hubungan antar manusia manfaatnya sangat ampuh. Tidak percaya?. Saya punya tetangga dari Yogya. Kalau menghubungi teman tersebut melalui telepon rumah, saya biasa di”interogasi” oleh pembantu rumah tangga yang dipercaya juga sebagai operator telepon ad interim. Begitu saya jawab bahwa saya “Ngarso Dalem”, si operator cepat-cepat menyampaikan kepada tuan rumah.
Bagaimana hubungan manusia dengan Allah S.W.T.? Terus terang saya sering kali tidak mengerti mengapa orang-orang tertentu memasang stiker, biasanya di kendaraan, misalnya “We are Moslem”. Dalam Al-Qur’an, saya menemukan beberapa kata seperti Muttaqien, Mukhlis, Mukmin, Muslim, dan Mukhsin. Yang saya ndak mengerti, kenapa orang tidak memasang stiker “We are Muttaqien” atau “We are Mukmin”, misalnya.
Sudah dua malam ini saya ikut tahlilan tetangga yang meninggal dunia. Yang menjadi Ustadz teman saya juga, meskipun masih muda, sang Ustadz cukup bijaksana ketika ia mengingatkan bahwa umat Islam sejatinya juga mempunyai derajat dalam hubungannya dengan Allah S.W.T?. Mau tahu derajat manusia dalam konteks hablun minallah?
Kata Ustadz, kalau sekedar jadi orang Islam, itu baru menjadi muslim doank. Jangan terlalu happy kalau baru menjadi muslim. Sebab, setelah Muslim, di atasnya ada Mukmin, Mukhlis, Mukhsin, dan yang paling mulia adalah Muttaqien.
Banyak orang berlomba-lomba untuk menyelesaikan pendidikan S1, S2, S3. Banyak orang berduyun-duyun menumpuk harta kekayaan. Saya tidak tahu apakah masih sempat orang bertanya “Siapakah saya?”
Para ahli filsafat berkata bahwa “Manusia yang mengenal dirinya sendiri maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Wassalam,
Kuningan, 15 Juli 2005
Wisanggeni