2006-02-24
POTONG PADI.
Blog Post by : MIFTAH - Ayahnya Allessa“SEBAB AKU BERSUKA CITA BUKAN KARENA AKU MEMOTONG PADI, TAPI SEBAB AKU BERSUKA CITA KARENA AKU MEMOTONG PADI YANG AKU TANAM”.
Kata-kata “bersayap” tersebut di atas tidak saya kutip dari lagu Potong Padi yang biasa dinyanyikan oleh saudara-saudara kita dari Kawanua. Bagi anda yang pernah membaca buku Max Havelaar, anda dengan segara dapat menebak bahwa motto itu berasal dari Multatuli.
Teman-teman dekat saya merasa kecewa kalau harus terpaksa minta tolong kepada saya. Boro-boro dibantu, pulang-pulang malah membawa “sumpah serapah” dari saya. Saya memang tidak suka menolong orang. Hanya 4 “jenis manusia” yang saya tolong : anak yatim piatu, 2. kaum dhuafa. 3. para penyandang cacat, dan 4. orang-orang tua yang sudah, nuwun sewu “jompo”.
Orang normal mestinya tidak minta tolong. Orang yang jiwanya sehat tidak akan mudah menyerah dan bersegera minta tolong orang lain. Orang yang fisiknya sehat seharusnya diimbangi dengan jiwa yang sehat. Ironisnya, justru orang yang secara fisik normal, sejatinya adalah orang yang cacat mental. Kebalikannya, orang yang secara fisik tidak sempurna, sejatinya adalah orang yang sehat mental.
Itulah sebabnya, ketika Gus Dur secara sistematis “dieliminasi” sebagai kandidat calon presiden, para “abdi dalem”nya merasa perlu protes keras sambil berdemo. Yang menarik, meskipun basis kuat NU adalah Jawa Timur, tetapi cara protes arek-arek NU tidak meniru cara-cara bonek “bobotoh” (baca : suporter) Persebaya. Kalau hanya “kalah ganteng” dengan SBY, mbok yao Gus Dur jangan dikuyo-kuyo kayak gitu.
Dengan cerdas dan trengginas, para “abdi dalem” yang “pejah gesang nderek Gus Dur”, menayangkan iklan yang jitu. Siapa bilang orang cacat tidak bisa berkarya?. Disebutnya lah kemudian nama-nama orang yang tidak sempurna tetapi sukses : Stephen Hawking (di bidang fisika), Ludwig von Beethoven (musik klasik), “FDR” atau Franklin Delano Roosevelt (negarawan). Ada juga Marlee Mathleen di bidang film yang ngetop saat tampil bersama dan “B3” (bobok-bobok bersama) dengan William Hurt dalam “Children of the Lesser God”. Beethoven mempunyai masalah dengan indera pendengarannya, tetapi para kritikus musik klasik justru berpendapat bahwa banyak simponi karya Beethoven yang digolongkan sebagai masterpiece diciptakan setelah ia mengalami gangguan dengan pendengarannya. Sekedar tambahan informasi, Robert Gillaume Marconi dan Alexander Graham Bell kan juga orang-orang yang tidak mempunyai fisik sempurna. Marconi kemudian dikenal sebagai penemu radio, sedangkan Bell kemudian dikenal sebagai penemu telepon.
Bagi saya, Gus Dur sebenarnya termasuk “orang hebat”, tulisannya pun saya baca. Yang sedikit “menggangu”, barangkali sikapnya yang “esuk tempe sore dele”. Bahkan, mungkin lebih hebat lagi : “esuk tempe, awane wis dadi dele”. Sikapnya yang tidak konsisten, atau malah pemikirannya yang sangat maju, memang membingungkan bagi banyak orang sehingga mudah sekali dianalogikan dengan tempe dan dele.
Alasan saya tidak suka membantu orang sehat dan dikarunia fisik utuh sebenarnya sangat sederhana. Lha wong orang tuna netra saja dengan modal jempolnya mampu mendapatkan Rp. 30.000,- untuk 1 jam memijit. Kok orang normal dan berpendidikan tinggi kok malah minta dibantu?
Nggak malu sama orang-orang anak yatim, kaum dhuafa, cacat fisik, dan orang-orang tua yang sudah lemah? Kalau susah bilang “Ya sih”, belajarlah kepada Dian Sastrowardoyo.
Barangkali Eleanor Roosevelt benar ketika ia berkata “no one can make you feel inferior without your consent”
Ya sih.
Pamulang, 3 Januari 2005
Salam,
Wisanggeni