Surga

Blog Post by : MIFTAH - Ayahnya Allessa

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Seorang aktris yang sudah tidak muda lagi dan tentu saja tidak cantik lagi – tapi masih suka tampil buka-bukaan – tidak mampu menahan tangis tersedu-sedu. Bisa dimaklumi, perseturuannya dengan ibu kandungnya memang dapat membawanya kepada nasib yang tidak beda dengan Malin Kundang. Barangkali karena melihat sang ibu sudah meledak-ledak amarahnya, atau mungkin juga membayangkan kutukan ibu dapat mengubah kehidupan dunia akhirat menjadi sengsara, sang aktris langsung buru-buru sowan dan sungkem minta maaf kepada ibunya.

Pemandangan di layar kaca itu sangat berbeda dengan pemandangan yang diperlihatkan oleh para sahabat saya saat menghadiri akikah anak pak RT. Sembari mendengarkan ceramah ustadz dengan khusuk, mereka juga tertunduk lesu. Mengutip hadits Rasulullah Muhammad S.A.W, ustadz mengingatkan bahwa surga juga “di bawah telapak kaki anak”. Konon, ada seorang anak yang harus menghuni neraka, kemudian mengajukan hak interpelasi kepada Allah S.W.T yang intinya keberatan karena dirinya menjadi masuk neraka karena orang tuanya tidak bertanggung jawab mendidiknya menjadi seorang yang bertakwa dan berakhlak mulia. Hasilnya, orang tuanya yang mestinya masuk surga, akhirnya masuk neraka. Ustadz juga bercerita, ada seorang anak yang masuk surga tetapi kecewa berat kepada Allah S.W.T karena memasukkan orang tuanya ke dalam neraka. Menurut si anak, ia dapat menjadi orang yang bertakwa dan berakhlak mulia serta akhirnya masuk surga adalah berkat pendidikan orang tuanya juga. Sepatutnya orang tuanya juga diberikan reward atas jerih payah mereka membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Setelah diadakan fit and proper test, akhirnya si orang tua masuk surga juga.

Cerita bahwa “surga di bawah telapak kaki ibu” semua orang sudah tahu dan setuju. Tetapi cerita bahwa “surga juga di bawak telapak kaki anak” barangkali tidak semua orang tahu dan setuju. Bahkan cerita Malin Kundang diabadikan seolah-olah menjadi pembenar bahwa “surga hanya di bawah telapak kaki ibu”.

Setuju atau tidak, tidak jadi soal. Bagi saya pribadi, hikmah yang dapat diambil dari ceramah ustadz adalah bahwa orang tua tidak hanya mempunyai kekuasaan yang besar terhadap anak-anaknya, tetapi lebih penting adalah tanggung jawab yang sangat besar, atau berat, terhadap anak-anaknya. Tidak ada cerita bahwa kekuasaan yang besar tersebut memberikan kewenangan bagi orang tua untuk abuse of power.

Atas nama surga di bawah telapak kaki ibu, kadang-kadang orang tua menjadi lupa untuk menghormati anak-anaknya. Bahwa seorang anak harus menyayangi, membalas budi, dan menghormati orang tuanya, tidak ada satupun yang keberatan. Lucu kalau kemudian ngawur bahwa orang tua tidak perlu menghormati anak-anaknya, hanya karena alasan telah melahirkan, mengorbankan nyawanya, dan membesarkannya dengan susah payah.

Seekor hewan yang akan disembelih, wajib bagi kita untuk melaksanakannya dengan membacakan asma Allah S.W.T. Bismillah, kata Prof. Quraish Shihab, mempunyai makna dengan nama, atas nama dan untuk Allah S.W.T. Kalau kepada hewan saja manusia diminta untuk menghormati dan tidak memperlakukan semena-mena, apalagi kepada manusia?

Kuningan, 9 Pebruari 2006

Wassalam,

Wisanggeni

Add a Comment





Lilypie 4th Birthday Ticker